sebuah catatan bagi kekasih

September 25th, 2008

ibu
juga kau saudara perempuanku
jangan pernah ikut antri dalam rombongan pengemis

ibu
juga kau saudara perempuanku
jangan kita coreng wajah sejarah

ibu
juga kau saudara perempuanku
fakir dunia bukan segala

ibu
juga kau saudara perempuanku
cukupkan hati
cukupkan hati
cukupkan hati

****

tangis jerit kamatian dua puluh satu jiwa mengangkasa membuncah semesta menggetarkan arsy
masih kau pongah duhai pemimpin. ketika tuhanpun telah memerintahkan semua malaikatnya untuk hadir menjemput kekasih dalam sebaik baik rupa

mana angka kemiskinan yang kau sajikan dari biro pencatat angka angka ngawurmu itu !
mana cerocos nota pertanggung jawabanmu dalam pleno para munafik itu !
kau selalu berkata angka kemiskinan yang terus menurun
kau buai kuping para bodoh negeri ini dengan sulapan angka angka mu

kemiskinan
akan senantiasa menjadi komoditas
bagi pemimpin negeri. kepada para intelektual. teruntuk politisi bajingan. penghias media pembalut sejarah
pada sebuah negeri dongeng taman kardus

kemiskinan
semakin memenuhi etalase kehidupan trotoar kota
terpajang rapi pada rak rak buku perpustakaan kampus
sebagai bahan diskusi seminar basi

kemiskinan
sebuah perjalanan sejarah kemanusiaan

sadarkah kau pemimpin. kau tak lebih. pun dari seekor anjing
cuih !!!

****

kepulangan dua puluh satu jiwa kekasih dalam pelukan semesta
hadirkan keyakinan
bahwa kekasihku jiwaku ragaku ruhku sirrku
hanya tercipta bagi kalian

hidup para fakir !!!

****
.: matikan televisi itu
tak sanggup melihat kembali, aku
mati. ibu dan saudara perempuanku
untuk tigapuluh ribu

Filed under titik waktu | Comments (2)

hari ini aku berbicara denganmu (pada 10 hari kedua)

September 25th, 2008

ringan hampa
semakin tak kusadar peduli
terpotong pun
hingga gelang tangan. telah
semalam

****

hari ini aku berbicara dengan mu
hati ke hati
lalui huwa hiya
hati kita
di teras jaman pada ramadhan kita

****

sebuah sejarah peradaban
tak dapat kau menguburnya
dengan sebuah skenario tematik sistemik
akan tetap mengalir
tak kausadar
tunggu saja !

****

anak tangga menuju puncak
setelah landai menurun, datar
sadari kau. bagian undak berundak datar
menuju puncak
dalam pembersihan memori sejarah
sebuah perjalanan peradaban
menuju cahaya

****

hantarkan anak anak sejarah
pada gerbang makrifatullah
kali pertama. katamu
pintu yang senantiasa diterangi
pintu yang senantiasa dimulyakan
bagi tubuh tak berwajah

****

injaklah kaki ku, anak ku
pijaklah bahu ku, anak ku
sebagai pondasi sejarah
kelak. kau sadar
sendiri seperti aku
sebuah bahu tak akan terkubur
tak kan

**** Continue reading »

Filed under titik waktu | Comment (0)

tanda itu

deras itu

sinyal itu

malam itu

yakin itu

jatah ku

****

satu ramadhan

sepuluh tahun dalam pingitan, ini

susur sama jalan

panggungku

cuma menulis dirimu dan membacakannya

meledaklah !

buka file usangmu, fotoku belum berubah

****

sendiri fakir menguji permata, kah

cinta sepi duka derita

jalan

lalui

seperti penyair, kah. seolah olah

cinta kekasih merindu

pesta tulis pora mengindah

justifikasi anak bini lari ketiak ibu

****

masa depan selalu

ragumu

yakinku

masa depan adalah masa lalu

pada kembali ku

apalagi ?

****

aku meyakinkan diriku, benarkah aku mencintaiMu duhai Gusti

aku bertanya padaku, sudahkah aku mencintaimu sayidku

aku, pantaskah aku mencinta diriku pun

tak ada yang bisa kubanggakan sebagai dalih agar kau mencintaiku duhai Gusti

umatku umatku, selalu katamu. namun, benarkah aku umatmu jika ku cermin rusak diri

rawatkah batang tubuh diri

tertunduklah, dalam diam

****

Continue reading »

Filed under titik waktu | Comments (2)

hikayat bekantan 1

tiga kawan bertandang, bersenapan mesiu dollar

ke sarang kami

cintai orangutan kata mereka

jalan buntu tebak ku

tiga kawan berpamitan

sangat bersalah, bekantan

nanti kita konservasi setan, guraumu

****

hikayat bekantan 2

dua kawan menawarkan

ke sarang mereka

bergabung pt panda

maaf, aku sangat cinta koperasi bekantan

****

hikayat bekantan 3

empat kawan bertandang

usai pelantikan kepala balai taman nasional kebun pisang plus spbu

cintai orangutan bujukmu

perbanyak silahturahmi dan berjemaah pungkasmu

proposal mencintai orangutan tak jua kami buat

kami galau duhai bekantan

kami tetap mencintaimu duhai bekantan

kami, ya kami

bekantan yang tersisa

****

hikayat bekantan 4

komitmen pada komitmen

janji pada janji

nantikan ya nantikan

bekantan kurus aksi panggung aspal jalan becek desa gelap perbatasan

pada ruang hidup

pada rumpun hijau berlawan

pada merah yang bukan kesumba

****