sebuah catatan bagi kekasih
ibu
juga kau saudara perempuanku
jangan pernah ikut antri dalam rombongan pengemis
ibu
juga kau saudara perempuanku
jangan kita coreng wajah sejarah
ibu
juga kau saudara perempuanku
fakir dunia bukan segala
ibu
juga kau saudara perempuanku
cukupkan hati
cukupkan hati
cukupkan hati
****
tangis jerit kamatian dua puluh satu jiwa mengangkasa membuncah semesta menggetarkan arsy
masih kau pongah duhai pemimpin. ketika tuhanpun telah memerintahkan semua malaikatnya untuk hadir menjemput kekasih dalam sebaik baik rupa
mana angka kemiskinan yang kau sajikan dari biro pencatat angka angka ngawurmu itu !
mana cerocos nota pertanggung jawabanmu dalam pleno para munafik itu !
kau selalu berkata angka kemiskinan yang terus menurun
kau buai kuping para bodoh negeri ini dengan sulapan angka angka mu
kemiskinan
akan senantiasa menjadi komoditas
bagi pemimpin negeri. kepada para intelektual. teruntuk politisi bajingan. penghias media pembalut sejarah
pada sebuah negeri dongeng taman kardus
kemiskinan
semakin memenuhi etalase kehidupan trotoar kota
terpajang rapi pada rak rak buku perpustakaan kampus
sebagai bahan diskusi seminar basi
kemiskinan
sebuah perjalanan sejarah kemanusiaan
sadarkah kau pemimpin. kau tak lebih. pun dari seekor anjing
cuih !!!
****
kepulangan dua puluh satu jiwa kekasih dalam pelukan semesta
hadirkan keyakinan
bahwa kekasihku jiwaku ragaku ruhku sirrku
hanya tercipta bagi kalian
hidup para fakir !!!
****
.: matikan televisi itu
tak sanggup melihat kembali, aku
mati. ibu dan saudara perempuanku
untuk tigapuluh ribu
Filed under titik waktu | Comments (2)
hari ini aku berbicara denganmu (pada 10 hari kedua)
ringan hampa
semakin tak kusadar peduli
terpotong pun
hingga gelang tangan. telah
semalam
****
hari ini aku berbicara dengan mu
hati ke hati
lalui huwa hiya
hati kita
di teras jaman pada ramadhan kita
****
sebuah sejarah peradaban
tak dapat kau menguburnya
dengan sebuah skenario tematik sistemik
akan tetap mengalir
tak kausadar
tunggu saja !
****
anak tangga menuju puncak
setelah landai menurun, datar
sadari kau. bagian undak berundak datar
menuju puncak
dalam pembersihan memori sejarah
sebuah perjalanan peradaban
menuju cahaya
****
hantarkan anak anak sejarah
pada gerbang makrifatullah
kali pertama. katamu
pintu yang senantiasa diterangi
pintu yang senantiasa dimulyakan
bagi tubuh tak berwajah
****
injaklah kaki ku, anak ku
pijaklah bahu ku, anak ku
sebagai pondasi sejarah
kelak. kau sadar
sendiri seperti aku
sebuah bahu tak akan terkubur
tak kan
**** Continue reading »
Filed under titik waktu | Comment (0)
tanda itu
deras itu
sinyal itu
malam itu
yakin itu
jatah ku
****
satu ramadhan
sepuluh tahun dalam pingitan, ini
susur sama jalan
panggungku
cuma menulis dirimu dan membacakannya
meledaklah !
buka file usangmu, fotoku belum berubah
****
sendiri fakir menguji permata, kah
cinta sepi duka derita
jalan
lalui
seperti penyair, kah. seolah olah
cinta kekasih merindu
pesta tulis pora mengindah
justifikasi anak bini lari ketiak ibu
****
masa depan selalu
ragumu
yakinku
masa depan adalah masa lalu
pada kembali ku
apalagi ?
****
aku meyakinkan diriku, benarkah aku mencintaiMu duhai Gusti
aku bertanya padaku, sudahkah aku mencintaimu sayidku
aku, pantaskah aku mencinta diriku pun
tak ada yang bisa kubanggakan sebagai dalih agar kau mencintaiku duhai Gusti
umatku umatku, selalu katamu. namun, benarkah aku umatmu jika ku cermin rusak diri
rawatkah batang tubuh diri
tertunduklah, dalam diam
****
Filed under titik waktu | Comments (2)
hikayat bekantan 1
tiga kawan bertandang, bersenapan mesiu dollar
ke sarang kami
cintai orangutan kata mereka
jalan buntu tebak ku
tiga kawan berpamitan
sangat bersalah, bekantan
nanti kita konservasi setan, guraumu
****
hikayat bekantan 2
dua kawan menawarkan
ke sarang mereka
bergabung pt panda
maaf, aku sangat cinta koperasi bekantan
****
hikayat bekantan 3
empat kawan bertandang
usai pelantikan kepala balai taman nasional kebun pisang plus spbu
cintai orangutan bujukmu
perbanyak silahturahmi dan berjemaah pungkasmu
proposal mencintai orangutan tak jua kami buat
kami galau duhai bekantan
kami tetap mencintaimu duhai bekantan
kami, ya kami
bekantan yang tersisa
****
hikayat bekantan 4
komitmen pada komitmen
janji pada janji
nantikan ya nantikan
bekantan kurus aksi panggung aspal jalan becek desa gelap perbatasan
pada ruang hidup
pada rumpun hijau berlawan
pada merah yang bukan kesumba
****

Manunggaling Kawula Gusti (meleburnya diri ke TUHAN )
Aku ini adalah diriMuJiwa ini adalah jiwaMu
Rindu ini adalah rinduMuDarah ini adalah darahMu
itu katanya syair Dewa
Coba kita kembali ke Layer 0
Bagian manakah dari dirimu yang bukan dariNya?
Tapi jangan kotori Nur Ilahi dengan bejatnya nafsumu
Karna itu sucikanlah,dan tegapkan langkah,untuk menuju status,Manunggaling Kawula Gusti
Diposting oleh Jay@ di 06:20
dmna diriku dmna tuhanku ?/?????