kami baru saja kenal, tak lebih dari tiga bulan. niat yang sama untuk menyampaikan rasa melalui media musik telah mempertemukan kami. sebuah band yang hingga kini masih belum memiliki nama, sebuah band yang ingin lebih mengenali suara suara indah yang dihasilkan dari alat tetabuhan, petik, dan tiup tradisional kalimantan dibalut dalam nuansa reggae.
kami tersisa berenam malam ini, karena uwi telah pamit lebih dulu. biasa, nganter pulang bininya. maklumlah sudah hampir jam sepuluh. jack, nanang gimbal berada di samping kananku. sedangkan bram tepat didepanku, yogi agak kesebelah kirinya, diseberang meja yang membatasi kami. dan fadil, seperti biasa konsisten milih yang agak ke kiri duduk beralaskan sendal.
“emang sudah ketemu jawabannya bram?”, tanyaku padanya sembari menikmati kopi pada sebuah warung lesehan tempat kami biasa tampil. telah lebih dari sejam kami ngobrol dan kali ini tanpa sengaja arah pembicaraan kami membahas soal hidup yang beragama. bram yang sedang gundah mencoba curhat dan mengajak mendiskusikannya.
“ya. jawaban dari pertanyaanku adalah pertanyaan pertanyaan baru”, ia menjawab. lanjutnya, ”pernah suatu waktu aku melangkah ke perpustakaan kampusku saat di bandung, dan aku tersesat bang.”
“tersesat di perpus atau di dalam buku yang kau baca?”, aku.
“di buku yang kubaca itu. aku bingung memaknainya”, bram.
****
memang begitu bram, manusia sejak terlahir selalu penuh dengan pertanyaan. coba kau amati anak kecil yang sudah mulai belajar berbicara. ia selalu ingin bertanya, bertanya dan terus bertanya. tentang ini, tentang itu, tentang apa saja. dan tabiat ini akan terus berlanjut hingga dewasa bahkan tua. akan selalu banyak pertanyaan dan kita akan semakin dibingungkan. tapi pada dasarnya pertanyaan yang kerap hadir adalah mengenai siapa diri kita sejatinya. ia laksana lambaian mesra dari tangan yang mungkin pernah kita kenal, mengajak kita sejenak merenung, namun diri kita terlalu angkuh dan tetap saja yang mengabaikannya. kita terlalu sibuk dengan dunia, bram. rutinitas kerja, obsesi harta, haus kekuasaan, wanita cantik atau segudang hal lainnya yang sangat menyilaukan kita walaupun pada hakikatnya yang menyilaukan itu bukanlah dunia ini namun cahaya sejati di atas cahaya. Sang Maha Cahaya.
cahaya sejati itulah tujuan kita, bram. saudaraku, pernahkah kau amati pucuk pucuk pepohonan di kerumunan hutan? mereka berlomba untuk menengadahkan sulur sulur dari tajuk tertingginya untuk dapat menggapai cahaya. kau tahu mengapa demikian bram? karena pepohonan memiliki kesadaran bahwa tanpa cahaya yang cukup mereka tak dapat bertahan hidup, akan tersisih, kering dan kerdil. karena mereka sadar bahwa hakikat mereka adalah pepohonan, mereka bukan sejenis pakis ataupun perdu yang dapat hidup dengan hanya pencahayaan yang secukupnya. kau tahu bram, pepohonan juga memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk meneduhkan hutan bagi tumbuhan dan satwa yang sangat bergantung pada mereka. mereka memayungi seisi hutan sehingga burung burung bebas berkicau dan hinggap di ranting ranting mereka atau kerajaan lebah yang bersarang dan menggantung di dahannya.
****
jangan buat diri kita menyesal bram. setelah kita beranjak dari dunia ini dan memasuki sebuah alam pemisah dengan hidup yang abadi, kita baru tersadar tentang makna hidup yang sesungguhnya. bukankah kita baru mengetahui semua kejadian hari ini setelah kita melewatinya? tapi kematian tak dapat mengembalikan kita. kematian yang akan menghantar kita untuk memasuki sebuah pintu gerbang keabadian. kembali kepada kesejatian. pulang. kembali pulang, itulah masa depan kita bram. kembali pulang ke asal, ke masa lalu. masa depan adalah masa lalu. siapkah diri kita mempertanggung jawabkan amanah yang terdapat pada diri ini kepada masa lalu kita di masa depan kita. jasad akan lebur kembali pada asal, tanah. ruh akan pulang, kembali pada yang meniupkannya.
mengapa hanya menyibukkan diri dan menghabiskan jatah kita di dunia ini untuk hanya mengurusi jasad yang sudah pasti akan binasa? buatlah selaras, karena jasad ini adalah amanah. jaga baik baik, tutupi ia. isi tungkunya dengan yang baik, tutupi semua titik yang wajib terlindungi dengan yang baik pula, tak mesti mahal. berikan juga nutrisi yang menyehatkan ruh kita.
****
ya bram, saat ini akupun tengah belajar kembali mengenali diriku. satu persatu mereka mulai memperkenalkan dirinya, tangan, kaki, leher, kepala, perut, dada, wajah, semuanya. aku menjadi malu bram karena selama ini aku terlalu angkuh. semua kerajaan di batang tubuh ini bukanlah milikku. ada pemilik sesungguhnya. biarkan DIA yang mengaturnya. serahkan diri, pasrah pada kehendakNYA. DIA yang maha mengetahui segalanya, termasuk detail apapun yang terbaik bagi diri kita.
bram, mengingat kematian memang sangat baik. termasuk “mati sebelum kita mati”.
****
