Sampanku abu-abu, mengambang di sungai kelabu.

Senja yang ungu, menemani sendu sendiriku.

Ikuti arus bersama badanku yang kurus.

Tak tahu utara dan tak kutatap berat.

Ya, aku sendiri di dunia tanpa arah angin.

Duniaku penuh haru dan tangis getir.

Aku berkiblat pada dingin,

Cahaya dan tak ada cahaya sama saja.

Benderaku, bendera kuning.

Gelap, tentu gelap.

Rumah-rumah terdiri dari warna-warni saja.

Warna tak natural.

Warna-warna campuran.

Sama seperti tumbuhan dan pepohonan.

Tak ada lagi hijau, biru putih dan hitam tegas.

Merah pun berubah jingga.

Lagu-lagu seperti bunyi tak beraturan,

Suara jangkrik semakin menyakitkan.

Kicauan burung jadi menakutkan.

Dan saat orang-orang telah pergi ke dalam mati,

Aku masih hidup.

Ya, sangat menyakitkan disaat aku sadar.

Aku masih hidup.